Mulai aja dulu

Hei, kau yang masih betah berleha-leha,
apa kabar?

Katanya kau ingin belajar untuk bisa berkarya supaya lebih siap menghadapi dunia.

Mana?
Kulihat kau masih tak lakukan apa-apa.

“Ah, nanti sajalah. Aku masih malu. Karyaku masih belum bagus. Dibanding mereka, aku masih tidak ada apa-apanya.”

Cih, alasan.
Sampai kapan kau akan takut?
Apa kau tidak bosan
Terus-terusan meremehkan karunia yang diberikan Tuhan?

Bangun dan angkat kepalamu.
Lemparkan selimut itu jauh-jauh.
Lakukan apa saja yang kau bisa
Mumpung masih muda.

Ini adalah hidupmu.
Ini tentang kamu.
Bukan tentang dia
Apalagi mereka.

Iklan

Yang sebenarnya kita miliki

Terkadang hidup ini lucu.Kau berpikir kau telah memiliki segalanya. Kau merasa gembira dan nyaman. Namun tiba-tiba semesta memutarbalikkan segalanya.

Kau yang sudah nyaman dengan hidupmu yang serba ada kemudian dipaksa untuk melepaskannya satu persatu.

Kau marah. Marah pada semesta, mengadu pada Tuhan kenapa begitu tega mempermainkanmu.Kau menangis tapi dunia tak peduli. Kau butuh teman, tapi lucunya mereka yang kau anggap berharga dan kau pikir akan selalu ada untukmu, menghilang. Bukan menghilang dalam arti sebenarnya hanya saja mereka mulai sibuk dengan dunianya. Kau bukan lagi prioritas.

Saat ini semesta sedang menertawakan kau yang terpuruk sendirian.

Ini bukan salah temanmu yang sibuk dengan dunianya, ini adalah salahmu yang terlalu menggantungkan hatimu pada mereka. Mengharapkan mereka selalu ada buatmu. Hey, jangan egois mereka juga punya kehidupan masing-masing.

Kau merasa tidak nyaman dan tidak aman dengan dirimu. Bahkan berdoa pada Tuhan saja kau merasa tidak percaya diri. Karena kau terlalu banyak ragu.

Pernahkah sejenak kau menatap pekuburan itu lekat-lekat seraya berpikir apa gerangan yang terjadi pada orang-orang dibawah tanah itu? Bagaimana kehidupan mereka sebelumnya? Bagaimana cara mereka mati? Tidakkah itu cukup membuat jantungmu berdebar memikirkan dirimu yang mulai kehabisan waktu?

Ingat, tidak ada yang benar-benar kita miliki. Berhenti mengejar yang fana. Fokus saja pada yang abadi.

Social media can be a toxic

Setiap kali mengakses social media otak kita memproduksi dopamine secara instan yang buat kita jadi terus-terusan want to stay here and get more entertaining content. Sampai pada akhirnya kita kecanduan dan sampai ketahap gabisa lepas dari social media.

We become addicted. Ngecek hape setiap beberapa menit l
sekali cuma demi memastikan notifikasi. Tanpa sadar dalam hidup kita mulai bergantung sama orang lain.

Kita berharap there is someone out there menyapa kita. Kita berharap berlebihan pada orang lain dan mulai insecure dalam kesendirian.

Smartphone, social media, and internet adalah penemuan hebat manusia yang sometimes very beneficial dan mempermudah kita dalam banyak hal tapi tanpa kita sadari merusak kita pelan-pelan.

Bagi mereka yang kuat dengan godaan social media bakalan bilang, “Kamu aja yang lemah. Makanya jangan sampai kecanduan lah.”

Hey, don’t easily judge people weak just because they can’t survive from addiction. Mereka mungkin gak sekuat kamu, tapi kamu gak berhak men-judge mereka semudah itu. Karena kamu gak tau apa-apa tentang mereka. Kamu gak tahu how suffer they are and what’ve they did to get out from the addiction.

***

Orang bilang, social media can be a toxic, tapi kalau dimanfaatkan dengan bijak, bisa jadi bermanfaat bagi diri sendiri dan juga banyak orang. Dijadiin lahan dakwah contohnya.

Masya Allah sekali. Aku salut dengan mereka yang bisa menjadikan social media sebagai lahan dakwah. Tau gak sih kenapa?

As we know, social media bisa jadi senjata tapi kalau si pemegang senjata gak kuat mengendalikan senjatanya, bisa-bisa senjata itu yang memakan tuannya. Seperti itulah social media bagi da’i yang lahan dakwahnya di social media.

Mereka berjuang menghasilkan konten bermanfaat dan menyerukan kebaikan pada netizen. Tapi pernahkah kita bayangin godaan macam apa yang mereka hadapi setiap hari??

Social media di desain untuk buat kita terus-menerus ingin berada disana dan melihat lebih banyak konten menarik. Dorongan itu kuat sekali hingga buat kita bisa menghabiskan berjam-jam waktu kita hanya untuk melihat informasi yang.. err penting, tapi tidak terlalu kita butuhkan.

Dan mereka yang berjuang untuk berdakwah dengan social media mengahadapi itu setiap harinya. Memang mereka udah belajar dan udah tau nilai bukan hanya tentang angka dan dakwah tidak mengharap apresiasi selain ridho Illahi. Tapi social media menuntun kita untuk itu. Jumlah followers jadi tujuan, likes jadi harapan, dan komentar jadi hal yang diinginkan.

Wahai da’i bersenjata social media, semoga kamu bijak dan kuat hingga senjatamu tak akan memakanmu. Semoga kamu mampu untuk selalu menghalau godaan social media. Aku harap kamu lebih tegar. Semoga niatmu selalu Lillah. Aamiin.

Aku tahu kamu terus-menerus berpikir tentang apa yang harus kamu buat untuk menyeru manusia pada kebaikan. Hingga kau sering lupa makan, tertekan, dan mungkin sedikit tertarik menjauh dari kehidupan sosialmu sendiri. Konten apa lagi yang menarik hingga orang-orang tergerak hatinya untuk bersujud kepada Illahi? Kamu kepikiran itu-itu terus. Bagus jika kamu punya pemikiran mulia seperti itu. Semoga menjadi pahala.

Namun…

Untukmu para dai bersenjata social media,

Listen!

Dude, I know you love the ummah, but love yourself should also be priority. ❤️

KENAPA HARUS JADI PEMENTOR??

Kenapa pula harus jadi pementor? Yah, itulah pertanyaan yang sulit sekali untuk kujawab.

To be honest, aku tuh awalnya tak pernah benar-benar ingin menjadi pementor. Jika kau tanya aku kenapa aku bisa jadi pementor mungkin aku akan menjawab dengan “entahlah. Itu terjadi begitu saja”.

Ya. Ya. Baiklah. Tak ada sesuatu yang benar-benar bisa terjadi begitu saja. Tentu saja aku ikut sekolahnya dan melewati semua tahapan. Aku heran kenapa aku bisa lulus padahal tak menganggapnya sesuatu yang serius.

Aku suka mentoring. Punya kakak pementor yang dengan sabar mendengarkan keluh kesah tentang betapa riweuh-nya kehidupan perkuliahan dan teman-teman satu lingkaran yang baik banget. Ah, betapa besyukurnya aku yang tidak baik ini bisa menjadi bagian dari orang-orang baik seperti mereka.

Hingga akhirnya aku lulus dan jadi seperti kakak itu. Ya, pementor.

Caramu memandang mentoring ketika menjadi pementor benar-benar berbeda dibanding saat kau hanya menjadi orang yang dimentoring. Kau harus benar-benar belajar, benar-benar harus capek. Karena tanggung jawabmu lebih besar. Ah ruwet sekali pikirku.

Aku sudah berkali-kali ingin mengundurkan diri dan berhenti jadi pementor. Tapi tak ada yang benar-benar menganggap kata-kataku serius. Well, hey, tahu kah kau seberapa depresinya aku waktu itu?

Gimana gak depresi coba. Bayangin aja. Kamu bukan orang yang pintar, pemahaman agamamu sedikit sekali, ibadahmu juga masih belum benar dan kamu udah sok-sokan ngambil tanggung jawab jadi pementor yang tugasnya ngebenerin orang lain, ngajak orang lain taat ibadah?

Ini tuh tentang agama mas/mba. Gak bisa macem-macem. Resikonya gede. Bahkan Allah uda nyindir di Al-quran pake surat ini:

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan diri (kewajiban)-mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” [QS. al-Baqarah/2: 44]

Berbagai cara telah aku lakukan untuk menghindar dari yang namanya aktifitas ‘ngisi mentoring’. Dari mulai mencari alasan menunda jadwal mentoring, mengalihkan mentoring ke pementor yang lain, sampai menghilang tanpa kabar. Ini aku ceritakan bukan untuk ditiru ya. Kalau diingat-ingat sebenarnya itu kisah yang konyol.

Kau tau kenapa aku dengan sengaja melakukan hal-hal tidak bertanggung jawab itu?

Karena aku ingin mendapatkan perhatian khusus. Aku butuh dibuat mengerti kenapa aku benar-benar harus ngebina. Apa untungnya buat aku. Sebuah pemahaman yang gak hanya bisa diterima dengan logika tapi juga nancep sampai ke hati.

Sudah banyak orang yang menasehatiku ini itu. Tapi sayangnya aku tidak pernah benar-benar mendapatkan jawabannya. Pengalaman membuatku mengerti bahwa aku harus menemukan sendiri jawabanku sendiri.

Hingga suatu hari aku benar-benar dibuat mengerti kenapa aku harus membina.

Seorang gadis penyuka senja mendatangiku dan mengeluhkan jadwal mentoring kami yang berantakan dan tentang aku yang tak pernah benar-benar bisa tegas menyuruh mereka datang mentoring.

I was speechless and didn’t know how to answer the question.

Wajah gadis itu sedih. Murung. Seolah menunjukan betapa ia merasa bersalah karena lagi-lagi kami gagal mentoring.

It wasn’t her fault. Ini terjadi karena aku yang belum benar-benar siap untuk menjadi pementor.

Aku bertanya padanya, “Kenapa kau ingin mentoring?”
“Karena aku butuh.”, katanya.
Aku tertampar. Sekaligus…
tertantang.

That’s it. Itulah alasan kenapa aku gak boleh berhenti. There is someone out there who really needs you to teach them. Mereka butuh kamu. Dia gak penah benar-benar tahu orang seperti apa kamu sebenarnya tapi ia percaya bahwa you are the one who took responsibility to be our mentor and now you have to be responsible.

Sama halnya seperti menjadi seorang guru, menjadi pementor bukan tugas yang mudah. Kau harus terus-terusan berjuang mengisi teko meski kau lelah. Karena ada gelas-gelas yang harus terus menerus kau isi.

Dan satu alasan lain dari itu adalah kamu harus menjadi orang yang lebih baik. Improve. You have to live the best version of life. Dan membina adalah salah satu caranya. Karena ketika kau menjadi pementor kau akan merasa memiliki tanggung jawab. You are the role model. Mereka mencontoh apa yang kamu buat. Tidakkah kau malu ketika kau lihat kedalam dirimu sedang tidak ada apapun yang baik dari dirimu yang bisa diteladani?

Jadi belajarlah. Gak ada ruginya kan kalau kamu jadi baik.

Meski begitu, tak peduli seberapa lelahnya dirimu, ingat jangan pernah berbalik ke belakang!

Selamat berjuang. Ganbatte!!

(Review) Film Split: Kisah Pria dengan 24 Kepribadian

Split merupakan film yang disutradari oleh M. Night Shyalaman pada 2017. Film ini berkisah tentang seorang pria yang miliki 24 kepribadian (James McAvoy) yang menculik tiga orang gadis Casey (Anya Taylor-Joy), Claire (Haley Lu Richardson), dan Marcia (Jessica Sula).

Casey, Claire, dan Marcia diculik dalam perjalanan pulang dari sebuah restoran oleh seorang pria tak dikenal. Mereka kemudian disekap disebuah ruangan tanpa mengetahui alasan kenapa pria itu menculik mereka.

Ketiga gadis itu ketakutan dan kebingungan. Pria itu adalah orang yang aneh. Casey, Claire, dan Marcia mencoba mengintip dari celah pintu dan melihat seorang wanita dengan rok tapi tak melihat dan juga sura seorang wanita. Mereka mengira bahwa pria itu kedatang seorang tamu wanita. Wanita itu kemudian masuk ke ruangan twmpat mereka dikurung. Ada yang aneh karena dia bukanlah seorang wanita melainkan pria itu yang mengenakan pakaian wanita dan bicara seperti wanita yang bernama Mis. Patricia.

Kemudian kepribadian yang lain satu persatu muncul. Dennis si kepribadian yang kuat, kaku, dan suka melihat wanita menari telanjang, Hedwig, kepribadian anak-anak berusia 9 tahun, Barry, kepribadian yang ramah dan terbuka yang sering mengunjungi Dr. fletcher, dan seterusnya.

Tiga gadis itu mencoba berbagai cara untuk kabur. Yang pertama mencoba kabur adalah Claire. Ia kabur melalui fentilasi di atap ruangan, namun sayangnya ia berhasil ditangkap dan dimasukan ke ruangan yang berbeda dari Claire dan Marcia. Setelah itu Marcia yang mencoba kabur dengan memukul kepala Hedwig dengan kursi namun juga gagal dan ia pun dikurung di ruangan lain disebelah ruangan Claire.

Di sisi lain, ada pula Dr. Fletcher, seorang psikolog yang begitj tertarik dengan kasus kepribadian ganda. Dr. Fletcher mengganggap setiap kepribadian adalah unik dan harus dilindungi. Salah saru pasiennya bernama Kevin Wendell Crumb memiliki 23 kepribadian yang berbeda. Salah satu kepribadian Kevin yang sering mengunjunginya adalah Barry. Suatu hari Dr. Fletcher mendapat e-mail dari Barry bahwa ia menginginkan sebuah pertemuan dengan Dr. Fletcher di luar jadwal rutin. Si dokter menduga Barry pasti memilili masalah sehingga ia membutuhkan pertemuan diluar jadwal. Namun ketika ditanyai Barry berkata bahwa ia baik-baik saja. Dr. Fletcher curiga bahwa yang menemuinya saat itu bukan Barry melainkan Dennis. Dr. Fletcher mencoba meyakinkan pria itu untuk mengaku sampai akhirnya ia mengakui bahwa dirinya adalah Dennis.

Dennis bercerita tentang sosok monster (The Beast) yang kuat, besar, dan menakutkan dalam diri Kevin. Dr. Fletcher mencoba meyakinkan bahwa monster itu tidak nyata. Tidak ada. Dr. Fletcher berpikiran positif bahwa setiap kepribadian itu unik dan istimewa. Sehingga ia mencoba merangkulnya ketimbang membantu Kevin melenyapkan kepribadiannya yang lain. Dr. Fletcher berkata bahwa ia bisa daja memanggil Kevin tapi ia tak mau melakukannya. Namun sepertinya keputusan Dr. Fletcher berakhir buruk karena Dennis berhasil membuat kepribadian ke-24 (the beast) muncul dan mengancam keselamatannya dan tiga gadis itu.

Pendapatku tentang film ini:

Film bertemakan psikologi memang selalu memiliki daya tarik tersendiri untuk ditonton. Begitupun film Split. Secara keseluruhan memang film ini benar-benar bikin penasaran. Gambarnya juga bagus. Sedikitnya dialog antar tokoh dan potongan kisah masa lalu Casey membuat film ini terasa membingungkan. Akhir kisah yang sedikit “tak masuk akal” membuatku terpelongo dengan muka ‘kok-gini?’ diakhir film. Mungkin karena film ini tidak menceritakan alasan kenapa Kevin bisa sampai memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Film ini terasa agak menggantung sehingga terasa kurang memuaskan ketika menontonnya.

Well, itu dia pendapat aku tentang film Split (2017) ini. Thx!!